Enter your keyword

April 29, 2015

Gache, Wig Besar di Drama Saeguk

Saya salah satu yang suka banget nonton drama Korea saeguk, baik itu cerita yang berdasarkan fakta sejarah ataupun fiksi yang bersetting sejarah. Drama saeguk kebanyakan bercerita tentang latar belakang sejarah Kerajaan Korea di masa lalu, sering dilengkapi dengan intrik dan kisah cinta yang tak jarang berakhir tragis. Sebut saja sederetan judul drama saeguk yang tak hilang dari ingatan: Empress Ki, Queen Seondeok, Dong Yi, Faith, Arang Magistrate, Sungkyunkwan Scandal dan tak lupa juga saeguk pertama yang saya tonton yaitu Dae Jang Geum.

Namun, kali ini saya bukan ingin membahas cerita dalam drama saeguk, melainkan salah satu yang sangat memikat mata saya ketika menikmati drama tersebut. Saya suka sekali melihat wig besar yang dipakai para wanitanya, biasanya yang sering dipakai oleh ratu atau permaisuri. Wig besar ini di Korea disebut gache. Gache adalah gaya rambut tradisional yang dipakai oleh wanita Korea, baik itu ratu ataupun gisaeng (wanita penghibur). 

Gache sangat populer pada masa dinasti Goryeo hingga dinasti Joseon dan masa pemerintahan Raja Yongjo dan Raja Jeongjo. Pada masa dinasti Goryeo dan Balhae, gache menjadi lebih umum dipakai oleh wanita pada masa itu.

Berikut ini beberapa contoh gache yang sering kita lihat di drama saeguk.

Kim Tae Hee di drama Jang Ok Jung


Kim Yoo Jung di drama The Moon that Embracess the Sun

Gache dengan ukuran kecil


Tutorial memakai gache

Di beberapa negara, mungkin kita bisa melihat ada berbagai jenis model rambut tradisional untuk melengkapi pakaian adat yang dikenakan, seperti di Jepang wanita yang memakai kimono juga menyanggul rambut mereka lalu dihiasi dengan kanzashi (hiasan rambut seperti tusuk konde).
Begitu pula dengan wanita Indonesia yang memakai kebaya, rambutnya akan dikonde dengan berbagai model dan menggunakan tusuk konde.
Di Korea, gache dipakai untuk melengkapi penampilan wanita yang memakai hanbok.

Zaman dahulu di Korea, gache dipakai oleh pria dan wanita karena mereka suka memanjangkan rambut. Mulai abad ke-18, para pria dilarang memakai gache. Gache adalah simbol kekayaan dan kekuasaan. Gache hanya dipakai oleh wanita berkedudukan sosial tinggi seperti gisaeng. Biasanya Gache juga dihiasi berbagai ornamen yang rumit dan berbagai perhiasan seperti sutra, emas, perak, karang dan batu giok. Itulah sebabnya harga Gache sangat mahal, orang-orang kelas bawah bahkan menjual ladang dan sawah mereka untuk membeli gache pada pernikahan putri mereka. Harga gache bahkan lebih mahal dari harga sepuluh rumah orang kelas menengah.

Pada tahun 1788, Raja Jeongjo melarang penggunaan gache, sesuai dengan Dekrit Kerajaan. Penggunaan gache dianggap bertentangan dengan nilai-nilai Konfusianisme. Produksi gache pada masa itu juga memakai rambut biarawati Buddha, tahanan, dan orang-orang dari kelas terendah. Selain itu, ada catatan peristiwa seorang wanita muda tewas ketika merunduk hendak memberi salam kepada ayah mertuanya. Usut punya usut ternyata leher wanita muda tersebut patah karena memakai gache yang terlalu berat. Dekorasi gache biasanya beratnya bisa mencapai 3 sampai 4 kilogram. 

Pada abad ke-19,  perempuan mulai memakai jokduri yaitu gache dengan ukuran yang lebih kecil. Namun di akhir abad ke-19, memakai gache dengan ukuran yang besar dan berat masih digunakan pada acara pernikahan tradisional dan masih sangat populer di kalangan gisaeng.

Dari berbagai sumber.


-tary onnie-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar